Inilah Dampak Negatif Perdagangan Internasional Bagi Perekonomian Indonesia

Infoyunik.com – Halo, pembaca yang budiman! Perdagangan internasional adalah aktivitas penting bagi perekonomian Indonesia. Namun, seperti yang kita ketahui, setiap kegiatan pasti memiliki dampak positif dan negatif.

Pada kali ini Infoyunik.com akan membahas dampak negatif dari perdagangan internasional terhadap perekonomian Indonesia.

Teruslah membaca untuk mengetahui lebih lanjut tentang dampak negatif ini dan bagaimana hal ini mempengaruhi perekonomian Indonesia.

Dampak Negatif Perdagangan Internasional Bagi Perekonomian Indonesia

Berikut ini adalah beberapa dampak negatif perdagangan internasional bagi perekonomian indonesia yang perlu kamu ketahui, antara lain:

Penurunan Pertumbuhan Ekonomi

1. Penurunan Pertumbuhan Ekonomi

Salah satu dampak negatif utama perdagangan internasional bagi perekonomian Indonesia adalah penurunan pertumbuhan ekonomi. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti hilangnya daya saing produk dalam negeri di pasar internasional dan terjadinya defisit neraca perdagangan yang semakin membesar.

Penurunan pertumbuhan ekonomi sendiri memiliki beberapa kerugian ekonomi yang sangat berdampak pada kehidupan masyarakat.

Pertama, akan terjadi penurunan kualitas hidup, misalnya melalui pengurangan anggaran untuk sektor publik seperti pendidikan dan kesehatan. Kedua, akan terjadi peningkatan kemiskinan dan pengangguran akibat turunnya daya beli masyarakat serta berkurangnya lapangan pekerjaan.

Masalah Utama Penurunan Pertumbuhan Ekonomi

Ada beberapa masalah utama yang mempercepat penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Salah satu masalah tersebut adalah pesatnya kenaikan harga impor barang konsumsi.

Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada impor semakin meningkat dan membuat daya saing pasar domestik semakin terancam.

Periode Ekspor (miliar USD) Impor (miliar USD) Defisit (miliar USD)
2014 176,4 178,1 -1,7
2015 150,7 132,3 18,4

Sumber: Statista, 2021

Dari tabel di atas, terlihat bahwa Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan pada 2015 sebesar 18,4 miliar USD. Angka ini semakin memperburuk kinerja ekonomi Indonesia dan menjadikannya lebih rentan terhadap resesi dan krisis ekonomi global di masa depan.

Oleh karena itu, dibutuhkan kebijakan yang berpihak pada pengembangan industri dalam negeri di Indonesia agar dapat meningkatkan daya saing produk dalam negeri di pasar internasional dan menyeimbangkan neraca perdagangan Indonesia.

Selain itu, juga dibutuhkan dorongan untuk memperkuat sektor ekonomi kreatif dan meningkatkan investasi pada sektor-sektor strategis.

Defisit Neraca Perdagangan

2. Defisit Neraca Perdagangan

Salah satu dampak negatif perdagangan internasional bagi perekonomian Indonesia adalah defisit neraca perdagangan. Defisit neraca perdagangan terjadi ketika nilai impor suatu negara melebihi nilai ekspornya. Indonesia mengalami defisit perdagangan selama bertahun-tahun, yang berarti negara ini lebih banyak mengimpor barang dan jasa daripada mengekspornya.

Tahun Defisit Neraca Perdagangan (dalam miliar dolar AS)
2016 -12,0
2017 -8,6
2018 -8,5
2019 -3,2
2020 -2,2

Defisit neraca perdagangan memperlihatkan bahwa Indonesia lebih banyak mengeluarkan devisa untuk membeli barang dan jasa dari luar negeri daripada memperoleh devisa melalui ekspor. Hal ini dapat menyebabkan kelangkaan devisa, yang dapat berdampak negatif pada nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

Bagaimana cara mengatasi defisit neraca perdagangan?

Untuk mengatasi defisit neraca perdagangan, Indonesia perlu meningkatkan ekspornya. Hal ini dapat dilakukan dengan mendorong sektor ekspor untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produknya, serta melakukan diversifikasi pasar ekspor.

Selain itu, pemerintah juga dapat melakukan kebijakan untuk membatasi impor barang-barang yang sebenarnya dapat diproduksi di dalam negeri.

Penurunan Daya Saing

3. Penurunan Daya Saing

Perdagangan internasional yang tidak seimbang juga dapat menyebabkan penurunan daya saing Indonesia di pasar global.

Dengan adanya kompetisi yang semakin ketat dari negara lain, Indonesia menjadi sulit bersaing karena terhambat oleh beberapa faktor internal yang mempengaruhi daya saing.

Salah satunya adalah biaya produksi yang terus meningkat karena ketergantungan pada impor bahan baku dan barang modal yang pada akhirnya akan meningkatkan harga jual produk Indonesia di pasar global.

Tak hanya itu, penurunan daya saing juga dapat menyebabkan pasar domestik terancam oleh produk-produk impor yang lebih murah dan memiliki kualitas yang sama atau bahkan lebih baik dari produk dalam negeri.

Hal tersebut tentu akan berdampak pada meningkatnya jumlah impor sementara ekspor menurun, sehingga neraca perdagangan semakin tidak seimbang.

4. Pengangguran Meningkat

Dampak negatif perdagangan internasional terhadap perekonomian Indonesia yang paling dirasakan oleh masyarakat adalah meningkatnya angka pengangguran.

Saat produk impor lebih mudah masuk ke Indonesia, tanpa adanya perlindungan bagi industri dalam negeri, perusahaan-perusahaan dalam negeri akan sulit bersaing dan merugi.

Hal ini menyebabkan banyak perusahaan yang terpaksa menutup dan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) banyak karyawan mereka, meningkatkan angka pengangguran.

Baca Juga:  Menelusuri Sejarah Pakaian Adat Jawa: Simbol Budaya yang Elegan

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka pengangguran terbuka (APT) Indonesia sebesar 5,23% pada Februari 2021.

Meskipun angka ini turun sedikit dibandingkan Agustus 2020 yang mencapai 5,81%, namun hal ini bisa jadi hanya bersifat sementara karena kondisi pandemi yang masih berlangsung.

Bahkan, menurut riset dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) pada 2020, sekitar 2,9 juta tenaga kerja terancam PHK akibat pandemi Covid-19.

Ketergantungan pada Impor dan Deindustrialisasi

5. Ketergantungan pada Impor dan Deindustrialisasi

Perdagangan internasional yang tidak seimbang dapat menyebabkan ketergantungan pada impor dan deindustrialisasi di Indonesia.

Ketergantungan pada impor dapat terjadi ketika produk-produk impor lebih mudah dan murah dibandingkan produk dalam negeri.

Pada akhirnya, pasar domestik akan kehilangan keinginan untuk membeli produk dalam negeri, dan industri dalam negeri akan semakin kehilangan daya saing. Akibatnya, terjadi penurunan produksi lokal dan peningkatan impor, yang berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi.

Deindustrialisasi juga dapat terjadi ketika industri dalam negeri tidak lagi mampu bersaing dengan industri asing.

Hal ini dapat terjadi karena biaya produksi yang lebih rendah atau teknologi yang lebih maju dimiliki oleh industri asing.

Penurunan daya saing ini akan menyebabkan penurunan produksi dalam negeri dan terjadinya peningkatan impor. Seiring berjalannya waktu, deindustrialisasi akan menyebabkan hilangnya lapangan kerja dan pengangguran meningkat di Indonesia.

Kontribusi Ketergantungan pada Impor dan Deindustrialisasi pada Perekonomian Indonesia

Ketergantungan pada impor dan deindustrialisasi berdampak buruk bagi perekonomian Indonesia. Kedua faktor tersebut menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi, defisit neraca perdagangan, dan peningkatan pengangguran. Selain itu, pasar domestik menjadi terancam dan industri dalam negeri kehilangan daya saing.

Dampak Negatif Cara Mencegah
Penurunan pertumbuhan ekonomi Mendorong pengembangan industri dalam negeri untuk bersaing dengan industri asing.
Defisit neraca perdagangan Meningkatkan ekspor produk dalam negeri dan menurunkan impor produk impor yang sejenis.
Peningkatan pengangguran Mendorong pengembangan industri dalam negeri dan meningkatkan investasi asing untuk menciptakan lapangan kerja baru.
Pasar domestik terancam Mendukung produktivitas sektor swasta untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih berkualitas dan dapat bersaing dengan produk impor.
Industri dalam negeri kehilangan daya saing Mendorong pengembangan industri dalam negeri dan meningkatkan investasi asing untuk meningkatkan kualitas dan teknologi produksi.

Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mengurangi ketergantungan pada impor dan mendorong pengembangan industri dalam negeri agar dapat bersaing dengan industri asing.

Langkah-langkah ini akan membantu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat Indonesia.

Ciri-Ciri Perdagangan Internasional

Ciri-Ciri Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional merupakan aktivitas pertukaran barang, jasa, dan sumber daya antara negara-negara yang berbeda.

Aktivitas ini melibatkan berbagai ciri khas yang membedakannya dengan perdagangan dalam negeri. Berikut adalah beberapa ciri-ciri perdagangan internasional secara detail:

  1. Melibatkan Lebih dari Satu Negara: Perdagangan internasional melibatkan setidaknya dua negara yang berbeda. Ada negara pengekspor yang mengirimkan barang atau jasa ke negara lain yang disebut negara impor. Interaksi perdagangan terjadi antara negara-negara ini dan dapat melibatkan banyak negara di seluruh dunia.
  2. Lintas Batas Negara: Perdagangan internasional melibatkan aktivitas ekonomi yang melintasi batas negara. Barang dan jasa harus melewati batas administratif, seperti pelabuhan laut, bandara, atau perbatasan darat, untuk mencapai negara tujuan. Hal ini melibatkan proses impor dan ekspor serta pengaturan administratif terkait, termasuk perizinan, bea cukai, dan regulasi lainnya.
  3. Pertukaran Mata Uang: Perdagangan internasional melibatkan pertukaran mata uang antara negara pengekspor dan negara impor. Setiap negara memiliki mata uangnya sendiri, dan nilai tukar mata uang ini dapat berfluktuasi. Transaksi perdagangan internasional melibatkan konversi mata uang dari negara asal ke mata uang negara tujuan berdasarkan kurs valuta asing yang berlaku.
  4. Peningkatan Akses ke Pasar Global: Salah satu ciri khas perdagangan internasional adalah meningkatkan akses ke pasar global. Dalam perdagangan internasional, produsen dapat menjangkau konsumen di negara lain yang mungkin memiliki preferensi, kebutuhan, atau permintaan yang berbeda. Hal ini membuka peluang untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan volume penjualan.
  5. Persaingan Global: Perdagangan internasional memberikan lingkungan persaingan global yang lebih luas. Produsen di negara yang sama atau berbeda bersaing untuk mendapatkan pangsa pasar internasional. Persaingan ini mendorong peningkatan kualitas produk, inovasi, efisiensi produksi, dan penurunan harga untuk memenangkan persaingan di pasar internasional.
  6. Perbedaan Kondisi Ekonomi: Negara-negara yang terlibat dalam perdagangan internasional memiliki perbedaan kondisi ekonomi, seperti tingkat pengembangan, tingkat inflasi, kebijakan moneter, dan faktor lainnya. Perbedaan ini dapat mempengaruhi keputusan perdagangan, termasuk harga, kualitas, dan preferensi konsumen.
  7. Pertukaran Berdasarkan Permintaan dan Penawaran: Perdagangan internasional terjadi berdasarkan prinsip permintaan dan penawaran. Negara pengekspor menawarkan barang atau jasa yang dibutuhkan oleh negara impor, sementara negara impor memberikan permintaan untuk barang atau jasa yang tidak diproduksi secara efisien di dalam negeri. Pertukaran ini mendorong efisiensi alokasi sumber daya secara global dan memaksimalkan kesejahteraan ekonomi di antara negara-negara yang terlibat.
Baca Juga:  Tips Servis Bola Voli: Cara Mudah dan Efektif untuk Menjadi Ahli Pemain Bola Voli!

Contoh Perdagangan Internasional Indonesia

Contoh Perdagangan Internasional Indonesia

Perdagangan internasional memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia. Negara ini terlibat dalam berbagai aktivitas perdagangan internasional yang melibatkan ekspor dan impor berbagai barang dan jasa.

Berikut ini adalah beberapa contoh perdagangan internasional Indonesia secara detail:

  • Ekspor Produk Pertanian: Indonesia merupakan salah satu eksportir utama produk pertanian di dunia. Contohnya adalah ekspor produk kelapa seperti minyak kelapa, kopra, dan serat kelapa. Indonesia juga mengirimkan produk-produk pertanian lainnya seperti kopi, teh, karet, kelapa sawit, dan cokelat. Produk-produk ini diekspor ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Jepang, China, dan Uni Eropa.
  • Ekspor Produk Pertambangan: Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah, termasuk sumber daya tambang yang berharga. Negara ini merupakan salah satu produsen utama komoditas pertambangan seperti batu bara, bijih nikel, timah, dan minyak bumi. Komoditas tersebut diekspor ke negara-negara seperti China, India, Jepang, dan Australia.
  • Ekspor Produk Perikanan: Indonesia juga memiliki sektor perikanan yang besar dan beragam. Produk-produk perikanan seperti ikan, udang, lobster, dan produk olahan perikanan diekspor ke berbagai negara di Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Negara ini juga terkenal sebagai eksportir terbesar produk udang di dunia.
  • Ekspor Produk Manufaktur: Indonesia juga terlibat dalam ekspor berbagai produk manufaktur. Contohnya adalah produk tekstil dan pakaian jadi, sepatu, produk elektronik, mobil, dan suku cadang otomotif. Produk-produk manufaktur ini diekspor ke negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Singapura, dan Australia.
  • Impor Bahan Baku dan Mesin: Selain ekspor, Indonesia juga melakukan impor berbagai bahan baku dan mesin. Negara ini mengimpor bahan baku seperti minyak mentah, beras, gandum, susu, dan gula. Selain itu, impor mesin dan peralatan seperti mesin industri, kendaraan bermotor, dan peralatan medis juga dilakukan untuk mendukung sektor industri dan pembangunan infrastruktur.
  • Impor Barang Konsumsi: Indonesia juga mengimpor berbagai barang konsumsi seperti produk elektronik, pakaian jadi, kosmetik, makanan dan minuman, serta barang-barang mewah. Impor barang konsumsi ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan domestik dan memenuhi permintaan konsumen di dalam negeri.
  • Impor Bahan Bakar Minyak: Indonesia adalah salah satu negara yang mengimpor bahan bakar minyak. Meskipun Indonesia memiliki produksi minyak bumi, namun impor masih diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Bahan bakar minyak, seperti bensin dan solar, diimpor dari negara-negara seperti Singapore, Malaysia, dan Arab Saudi.
  • Impor Mesin dan Teknologi: Untuk mendukung kemajuan industri dan teknologi di dalam negeri, Indonesia juga melakukan impor mesin, peralatan, dan teknologi. Ini termasuk mesin industri, peralatan pertanian, perangkat telekomunikasi, dan peralatan medis. Impor ini membantu memperbarui infrastruktur teknologi di Indonesia dan meningkatkan efisiensi produksi di berbagai sektor.
  • Perdagangan Jasa: Selain perdagangan barang, Indonesia juga terlibat dalam perdagangan jasa internasional. Contohnya adalah jasa pariwisata, di mana wisatawan asing datang ke Indonesia untuk menikmati keindahan alam, budaya, dan warisan sejarahnya. Selain itu, sektor jasa lainnya seperti jasa konstruksi, konsultasi, dan keuangan juga terlibat dalam perdagangan internasional.

Tanya Jawab Perdagangan Internasional

Tanya Jawab Perdagangan Internasional

Berikut ini adalah tanya jawab seputar perdagangan internasional, antara lain:

1. Apa yang dimaksud dengan perdagangan internasional?

Perdagangan internasional adalah pertukaran barang dan jasa antarnegara yang dilakukan melalui ekspor dan impor.

Hal ini bertujuan untuk mendapatkan barang maupun jasa yang tidak dapat diproduksi secara efisien oleh negara pengimpor, dan pada saat yang sama menghasilkan keuntungan bagi perekonomian nasional.

2. Apa dampak negatif perdagangan internasional bagi perekonomian Indonesia?

Ada beberapa dampak negatif perdagangan internasional bagi perekonomian Indonesia, seperti penurunan pertumbuhan ekonomi, defisit neraca perdagangan, penurunan daya saing, meningkatnya tingkat pengangguran, dan ketergantungan pada impor dan deindustrialisasi.

3. Apa yang dimaksud dengan defisit neraca perdagangan?

Defisit neraca perdagangan terjadi ketika negara mengimpor lebih banyak barang dan jasa daripada ekspor yang dilakukan.

Baca Juga:  Cara Mengutip dan Merujuk Pustaka yang Bikin Tulisanmu Makin Profesional!

Hal ini dapat mengakibatkan pengurangan cadangan devisa dan dapat menimbulkan tekanan pada nilai tukar mata uang.

4. Bagaimana perdagangan internasional dapat mempengaruhi tingkat pengangguran?

Perdagangan internasional dapat mempengaruhi tingkat pengangguran dengan beberapa cara, seperti penurunan produksi dan investasi di sektor yang terdampak, penurunan daya saing yang menyebabkan pasar domestik terancam, dan ketergantungan pada impor yang dapat mengurangi lapangan kerja di sektor produksi domestik.

5. Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi dampak negatif perdagangan internasional?

Beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengatasi dampak negatif perdagangan internasional adalah meningkatkan daya saing produk dalam negeri, memperkuat regulasi dan pengawasan terhadap perdagangan internasional, serta mendorong diversifikasi ekonomi dengan fokus pada sektor-sektor yang dapat meningkatkan produksi dan ekspor.