Bolehkah Pajang Foto Bernyawa di dalam Rumah? - Kumpulan Info Unik

Bolehkah Pajang Foto Bernyawa di dalam Rumah?

Kecanggihan tenologi saat ini memungkinkan siapa saja untuk mengambil foto. Hasil jepretan ini bisa menjadi dokumentasi untuk mengabadikan sebuah momen atau kejadian. Kebanyakan dari mereka kemudian mencetak dan memajang foto tersebut di rumahnya.

Selain untuk mengabadikan momen, meletakkan foto di dalam rumah juga berfungsi untuk menghias ruangan agar terlihat lebih indah. Tidak jarang di antara mereka yang menambah bingkai agar mempercantik tampilan foto untuk dipajang.

Namun, bagaimanakah pandangan Islam mengenai hukum memajang foto manusia atau makhluk bernyawa lainnya di dalam rumah? Diperbolehkankah atau justru dilarang? Untuk mengetahui jawabannya, berikut ini informasi selengkapnya.

Dalam berbagai hadist, telah dijelaskan bahwa memajang foto makhluk yang bernyawa itu adalah dilarang. Tidak main-main, ternyata tindakan ini berdampak bahwa malaikat tidak akan mau masuk kerumah.

Hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu dia berkata,” Rasulullah SAW melarang adanya gambar di dalam rumah dan beliau melarang untuk membuat gambar.” (HR. Tirmizi no. 1749 dan beliau berkata bahwa hadits ini hasan shahih)

Dalam hadits muttafaqun ‘alaih disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Para malaikat tidak akan masuk ke rumah yang terdapat gambar di dalamnya (yaitu gambar makhluk hidup bernyawa)”

Dari hadist di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa foto yang terlarang untuk dipajang itu adalah gambar makhluk yang bernyawa (memiliki ruh) yaitu manusia dan hewan. Itu berarti foto tumbuhan dan benda lain yang tidak bernyawa diperbolehkan untuk dipajang.

Selain itu, sisi pendalillannya bahwa Malaikat Jibril menganjurkan agar bagian kepala dari gambar tersebut untuk dihilangkan, barulah beliau akan memasuki rumah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa larangan memajang foto ini hanya berlaku pada gambar yang bernyawa saja, karena orang tanpa kepala tidaklah bisa dikatakan bernyawa lagi. Rasulullah SAW bersabda:

“Gambar itu adalah kepala, jika kepalanya dihilangkan maka tidak lagi disebut gambar.” (HR. Al-Baihaqi 7/270. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 1921)

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan dalam kesempatan yang lain bahwa gambar makhluk bernyawa boleh dibawa jika darurat. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ditanya, “Dalam majelis sebelumnya, engkau katakan bahwa boleh membawa gambar dengan alasan darurat. Mohon dijelaskan apa yang jadi kaedah dikatakan darurat?”

Syaikh rahimahullah menjawab, “Darurat yang dimaksud adalah semisal gambar yang ada pada mata uang atau memang gambar tersebut adalah gambar ikutan yang tidak bisa tidak harus turut serta dibawa atau keringanan dalam qiyadah (pimpinan).

Itulah kondisi darurat yang diperbolehkan untuk memajang foto makhluk bernyawa. Orang pun tidak punya keinginan khusus dengan gambar-gambar tersebut dan di hatinya pun tidak maksud mengagungkan gambar itu. Bahkan gambar raja yang ada di mata uang, tidak seorang pun yang punya maksud mengagungkan gambar itu,” (Liqo’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 33)

Demikianlah ulasan mengenai hukum memajang foto makhluk bernyawa di dalam rumah. Setelah mengetahui hukum ini, usahakanlah untuk menyingkirkan segala macam foto yang ada di dalam rumah agar para malaikat bersedia masuk ke rumah kita. Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan bagi hidup kita semua.
8 Komentar untuk "Bolehkah Pajang Foto Bernyawa di dalam Rumah? "

Dulu memang belum ada foto, Cuma gambar. Kalau pasang patung, memang tidak dianjurkan. Kalau Foto Masjidil Haram, atau Masjid nabawi, kan banyak manusianya? Kita Jangan sedikit-sedikit haram, begini atau begitu tidak boleh, kita Umat muslim turut kepada Fatwa MUI, hanya beliau yang memberikan Fatwa Haram atau tidak, boleh atau tidak. Bisa Jadi naik kendaraan haram atau tidak diperbolehkan, karena dulu naik Onta, bukan begitu juga. Supaya tidak terkicuh oleh artikel yang kontradiksi. Saya sarankan kepada penulis artikel, sebaiknya Anda konfirmasi ke MUI, baru di publikasikan. Apabila terlanjur di publikasikan, sebaiknya berbentuk saran atau informasi, bukan fatwa yang tidak Falid.

Bukankah di atas sdh jelas ada fatwa dari rasulullah yg jelas2 jauh dari hawa nafsu dan kepentingan.. Sungguh terlalu mudah untuk memahami hadits di atas bagi orang yg taslim (menerima) taat dan patuh terhadap tuntunan syariat ni... Hanya Allah lah yg memberi taufik kpd qalbun salim (hati yg bersih)...

harusnya dibedakan itu foto atau gambar. kalau gambar itu dibuat oleh manusia sedangkan foto hanya rekaman dari ciptaan Allah

Hadits yg disebut sahih belum tentu sahih secara kedudukan..harus ditinjau pula sanadnya...
Hadits itu boleh ditinjau dan di diskusikan kembali kesahihannya,,kecuali Al-Qur'an yg sudah pasti benar..
Video jg bisa haram..
Bukankah banyak pula dari para ulama yg berbeda pendapat soal ini? apakah perbedaan tersebut adalah pembangkangan terhadap fatwa Rosulullah??
Bukan membangkang..tp mempersoalkan kedudukan haditsnya..atau isi hadits yg prersisnya

Kenapa kita mempermasahkan foto atau gambar semuanya sama2 bisa dilihat dengan mata, kalau kita memang mau mengjkuti sunnah rosul ya kita ikuti, kalau tidak mau ya ndak apa2 itu semua tergantung pada keimanan kita memgimani pada rosulullah.

Buatlah gambar yang baik, itu bertanggung jawab

Jadi yang benar ini bagaimana, boleh apa tidak memajang foto dirumah... Karena dirumah saya ada banyak foto saya dan keluarga saya

Back To Top